Minggu, 17 Februari 2013

MTPJ (Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat) 17-23 Pebruari 2013

TEMA BULANAN :  “Penderitaan sebagai bagian dari proses realisasi iman”
TEMA MINGGUAN :  “Bertahan dalam pencobaan”
Bahan Alkitab [Ulangan 8 : 1-6; Matius 4 : 1-11]
Alasan Pemilihan Tema
     
Pada dasarnya semua orang ingin hidup senang, sejahtera, aman tanpa melewati kesukaran. Ada banyak orang yang beranggapan bahwa kalau kita menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh, maka Tuhan aka menolong dan memberkati kita dalam segala hal, baik dalam kesehatan, keuangan, pekerjaaan, studi, dsb, sehingga jalan kita menjadi mulus dan enak. Tetapi pada kenyataanya, kesukaran dan ujian hidup tetap saja dialami oleh setiap orang.
Disaat menghadapi pencobaan, tidak jarang biasanya orang akan mulai mempersalahkan orang lain bahkan mulai menggerutu kepada Allah. Kata “pencobaan” (Yunani: “peirasmos”) menunjuk kepada penganiayaan dan kesulitan yang datang dari dunia dan Iblis. Dalam versi Inggris NIV (“supaya kamu menjadi matang”). Matang (Yunani: “teleios”) mencerminkan pengertian alkitabiah tentang kedewasaan, yang didefinisikan sebagai hubunan yang benar dengan Allah yang berbuahkan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengasihi Dia dengan sepenuh hati dalam pengabdian, ketaatan, dan kemurnian (Bdk.Ul 6 : 5; 18 : 13; Mat 22 : 37). Karena itu, dalam Pejanjian Lama jika Musa mengingatkan bahwa kita harus selalu memiliki ketaatan dan kesetiaan kepada Allah dan sebagaimana pula dalam Perjanjian Baru ketika Kristus juga telah meneladankan bagaimana ketaatan dan kesetiaan itu diberlakukan-Nya dalam kerendahan hati. Dia mengingatkan kita untuk memandang ujian ini melalui mata iman. Hanya dengan demikian, maka kita dapat melihat indahnya tujuan dan berkat yang Allah sediakan bagi kita di dalam ujian itu. Memang kesukaran menyakitkan, tetapi orang yang setia menghadapi kesukaran, maka kebahagiaan yang dari Kristus nyata bagi kita.
Pembahasan Tematis§ Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Ketika orang Israel berada di dataran Moab menjelang masuknya mereka ke Kanaan Musa menegaskan kembali tentang perintah-perintah yang harus dijalankan. Jika mereka melakukan segenap perintah itu dengan setia maka sesuai dengan apa yang telah dijanjikan Allahdi atas sumpah kepada nenek moyang Israel mereka akan memperoleh hidup, bertambah banyak dan akan memasuki negeri yang dijanjikan itu, Kanaan (Ulangan 8 : 1). Ketaatan menjalankan perintah Tuhan pada dasarnya merupakan bentuk ucapan syukur atas apa yang telah Tuhan lakukan dalam kehidupan umat Israel sepanjang 40 tahu di padang gurun. Selain itu pula, ini dimaksudkan agar supaya umat Israel selalu mengingat bahwa melalui pengalaman tersebut Allah telah menempa, membentuk sikap dan prilaku agar mereka memiliki kerendahan hati. Allah juga hendak melihat sejauh mana ketaatan dan kesetiaan umat Israel berpegang terhadap perintah-Nya, ataukah tidak (Ulangan 8 : 2).
Pengalaman orang Israel ketika terjadi kelaparan di padang gurun dan hanya hidup denga memakan roti manna dimaksudkan Allah agar mereka mengerti bahwa untuk hidup bukan dipenuhi oleh dan untuk hal jasmaniah semata, tetapi lebih penting dari pada itu adalah ketika manusia melakukan apa yang di Firmankan Allah (Ulangan 8 : 3). Musa mengingatkan bahwa segala peristiwa yang berlaku atas mereka adalah bagian dari cara Allah membentuk mereka sebagai umat yang dikasihi-Nya,bagaikan orang tua yang mendidik anak-anaknya (Ulangan 8 : 4,5). Oleh sebab itulah segenap umat Israel hendaknya taat berpegang pada perintah Allah sebagai perwujudan dari kesetiaan dan sikap yang takut akan Dia (Uangan 8 : 6).
Ada saatnya ujian terhadap kesetiaan dilakukan Tuhan dengan cara merendahkan hati. Ketika dipuji atau diangkat mudah sekali bagi manusia untuk menyatakan kesetiaannya, tetapi ketika mengalami keadaan tidak dianggap, tidak diperhitungkan dan tidak dipuji, adakah kesetiaan itu?
Dalam Matius 4 : 1-11 ketika Yesus dicobai setelah Ia berpuasa 40 hari dan 40 malam merupakan suatu pelajaran tentang bagaimana kesetiaan dan ketaatan diteladankan-Nya. Godaan pertama yaitu ketika dalam keadaan yang sangat direndahkan dengan rasa lapar yang teramat sangat Yesus digodai Ilblis untuk mengubah batu menjadi roti. Tanggapan Yesus atas godaan tersebut adalah dengan mengutip apa yang diajarkan Musa, “untuk hidup bukan dipenuhi dan untuk hal jasmaniah semata, tetapi lebih penting dari pada itu adalah ketika manusia melakukan apa yang di Firmankan Allah” (Band. Mat. 4 : 4)
Selanjutnya untuk yang kedua kali Iblis mencobai Yesus dengan godaan bahwa hakekat Yesus sebagai Anak Allah adalah suatu hak yang istimewa, oleh karena itu Yesus patut dilayani, “…Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikatNya dan mereka akan menatang Engkau di atas tanganNya, supaya kakiMu jangan terantuk kepada batu.” (Mat. 4 : 6). Iblis bermaksud untuk menjatuhkan Yesus pada dosa kesombongan atau keangkuhan. Yesus digoda agar menunjukan kuasaNya untuk hal yang tidak pada peruntukannya, yaitu kuasa yang seharusnya untuk melayani hendak diwujudkan sebagai kuasa untuk dilayani. Yesus kembali menolaknya, sebagaimana apa yang Ia katakan “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat.4:7).
Iblis ternyata idak berhenti sampai disitu, ia (iblis) pun menawarkan godaan yang ketiga yaitu dengan mengiming-imingi kekuasaan dan kemuliaan yang akan diberikan kepada-Nya asalkan Yesus mau menyembah dia. Dengan tegas kembali Yesus menolaknya, sebab Dia tidak gila kuasa, Dia menghadapinya dengan kerendahan hati, Dia hanya mau menyembah dan melayani Allah. Akhirnya Yesus pun menampik iblis itu, “Enyahlah, iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Mat. 4:10). Maka iblis pun pergi dan malaikat-malaikat datang melayani Dia (Mat.10:11). Demikianlah kesetiaan dan ketaatan yang telah dinyatakan Yesus yang dijalankanNya dalam kerendahan hati terbayar dengan suatu kemenangan yang membawa kehormatan, kemuliaan, kesukacitaan yang sejati, yang berasal dari Allah.
§ Makna dan Implikasi FirmanAmanat Musa kepada umat Israel pada intinya menyampaikan bahwa keberadaan umat yang akan memasuki tanah Kanaan semata-mata adalah perkenanan dari Tuhan dan oleh karena itu jangan pernah melupakan Tuhan dalam segenap kehidupan mereka. Selanjutnya sebagai implementasi dari hidup yang tidak melupakan Tuhan ialah bagaimana umat Israel harus tetap setia dan taat melakukan perintah-perintah-Nya dalam kerangka ucapan syukur atas segala kasih dan penyertaan-Nya. Di samping itu, melalui berbagai kesukaran yang dihadapi umat Israel selama 40 tahun di padang gurun Allah telah bekerja dalam perjalanan sejarah mereka bahkan telah menempa dan membentuk kepribadian mereka, dengan membiarkan diri untuk dididik oleh Allah maka kehidupan akan berubah kearah yang baik. Itulah yang telah berlaku atas kehidupan umat Israel, dari yang sebelumnya tegar tengkuk, sombong dan angkuh, berubah menjadi umat yang memiliki kerendahan hati.
     Kerendahan hati inilah yang telah diteladankan oleh Yesus ketika Ia dicobai di padang gurun. Dengan kerendahan hati-Nya telah memampukan Ia untuk tetap setia dan taat kepada Bapa dan tidak jatuh oleh berbagai kenikmatan yang ditawarkan iblis kepada-Nya. Demikian halnya dengan kita, betapa sering kesetiaan kita diuji, yang membawa kita pada situasi apakah kita berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Memang mungkin kita merasakan lapar dalam hal ekonomi dan kalaupun kita makan roti dan air serba sedikit tetapi kalau kita tetap setia maka Allah tetap menyertai (Yes 30:20-21). Ketika kita menjalani kehidupan ini dengan takut akan Tuhan maka kita akan dibuatnya tetap setia dan memampukan kita untuk melakukan segenap perintah-Nya karena manusia hidup bukan hanya dari roti saja tetapi dari setiap firman Allah.
     Pencobaan yang dialami Yesus merupakan perwujudan dari tiga kelemahan manusia yang menjadi pusat serangan iblis, yaitu keinginan daging, keinginan mata dan kesombongan hidup. Pada titik-titik kelemahan ini manusia sering jatuh dan akhirnya meninggalkan kesetiaan terhadap Tuhan. Oleh sebab itulah, belajar dari kedua bagian pembacaan ini menunjukan bahwa ada suatu cara ataupun strategi untuk menghadapi setiap pencobaan, yaitu harus dihadapi dengan Firman Allah serta focus akan tujuan akhir yakni Kerajaan Allah dengan kebajikan dan kerendahan hati.

Pertanyaan Diskusi
  1. Dapatkah diungkapkan kembali hubungan dari kedua perikop ini? Dari hubungan tersebut apakah yang menjadi pesannya bagi kehidupan pribadi, keluarga, jemaat, dan masyarakat?
  2. Bagaimanakah pesan-pesan tersebut diwujudnyatakan sehubungan dengan memaknai minggu-minggu sengsara ini?

Pokok-pokok Doa
  • Mensyukuri segala penyertaan dan anugerah Tuhan dalam segenap eksistensi kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, gereja dan bangsa.
  • Kemampuan untuk menghadapi dan memaknai berbagai kesukaran hidup agar dapat berubah menjadi berkat yang justru meneguhkan iman kita.
  • Memiliki kerendahan hati dalam menjalani minggu-minggu sengsara.

Tata Ibadah yang Diusulkan: Hari Minggu Sengsara I
Nyanyian yang Diusulkan:Persiapan : KJ No.162:1,2
Nyanyian Masuk : KJ No. 407:1
Pengakuan Dosa : NNBT No.11
Pemberitaan Anugerah Allah : NNBT No.12
Ajakan Mengikuti Yesus Di Jalan Sengsara : NNBT No.29
Pembacaan Alkitab : Perjanjian Lama : KJ No.32:2
Persembahan : NNBT No.32
Nyanyian Penutup : NNBT No.35
Atribut yang Digunakan :Warna dasar ungu dengan simbol XP (Khi-Rho), cawan pembasuhan, salib dan mahkota duri.http://sinodegmim.org/home/index.php/2012-06-26-02-29-54/mtpj/247-mtpj-17-23-februari-2013.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar